Senin, 06 April 2015

Materi S1 PGSD : Pembelajaran IPS di SD



A.    Karakteristik Anak Usia SD
Karakteristik Anak Usia SD. Ada beberapa karakteristik anak di usia Sekolah Dasar yang perlu diketahui para guru, agar lebih mengetahui keadaan peserta didik khususnya ditingkat Sekolah Dasar. Sebagai guru harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan siswanya maka sangatlah penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik siswanya. Selain karakteristik yang perlu diperhatikan kebutuhan peserta didik juga harus diperhatikan juga.
Perkembangan anak usia SD banyak sekali mengalami perubahan yang sangat drastis baik mental maupun fisik. Usia anak SD yang berkisar antara 6-12 tahun menurut Seifert dan Haffung memiliki tiga jenis perkembangan :

1. Perkembangan Fisik Siswa SD
Mencakup pertumbuhan biologis misalnya pertumbuhan otak, otot dan tulang. Pada usia 10 tahun baik lakilaki maupun perempuan tinggi dan berat badannya bertambah kurang lebih 3,5 kg. Namun setelah usia remaja yaitu 12 13 tahun anak perempuan berkembang lebih cepat dari pada lakilaki.  Berikut usia anak SD mulai masuk sekolah sampai masa pubertas:
1.         Usia masuk kelas satu SD atau MI berada dalam periode peralihan dari pertumbuhan cepat masa anak anak awal ke suatu fase perkembangan yang lebih lambat. Ukuran tubuh anak relatif kecil perubahannya selama tahun tahun di SD. 
2.         Usia 9 tahun tinggi dan berat badan anak lakilaki dan perempuan kurang lebih sama. Sebelum usia 9 tahun anak perempuan relatif sedikit lebih pendek dan lebih langsing dari anak lakilaki.
3.         Akhir kelas empat, pada umumnya anak perempuan mulai mengalami masa lonjakan pertumbuhan. Lengan dan kakimulai tumbuh cepat.
4.         Pada akhir kelas lima, umumnya anak perempuan lebih tinggi, lebih berat dan lebih kuat daripada anak lakilaki. Anak lakilaki memulai lonjakan pertumbuhan pada usia sekitar 11 tahun.
5.         Menjelang awal kelas enam, kebanyakan anak perempuan mendekati puncak tertinggi pertumbuhan mereka. Periode pubertas yang ditandai dengan menstruasi umumnya dimulai pada usia 1213 tahun. Anak lakilaki memasuki masa pubertas dengan ejakulasi yang terjadi antara usia 1316 tahun.
6.         Perkembangan fisik selama remaja dimulai dari masa pubertas. Pada masa ini terjadi perubahan fisiologis yang mengubah manusia yang belum mampu bereproduksi menjadi mampu bereproduksi.

2. Perkembangan Kognitif Siswa SD
Perkembangan kognitif mencakup perubahan – perubahan dalam perkembangan pola pikir. Tahap perkembangan kognitif individu menurut Piaget melalui empat stadium:
·         Sensorimotorik (02 tahun), bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan medorong mengeksplorasi dunianya.
·         Praoperasional(27tahun),anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan katakata. Tahap pemikirannya yang lebih simbolis  tetapi tidak melibatkan pemikiran operasiaonal dan lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis
·         Operasional Kongkrit (711tahun), penggunaan logika yang memadai. Tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit.
·         Operasional Formal (1215 tahun). kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia
3. Perkembangan Psikososial
Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan dan perubahan emosi individu. J. Havighurst mengemukakan bahwa setiap perkembangan individu harus sejalan dengan perkembangan aspek lain seperti di antaranya adalah aspek psikis, moral dan sosial. Menjelang masuk SD, anak telah Mengembangkan keterampilan berpikir bertindak dan pengaruh sosial yang lebih kompleks. Sampai dengan masa ini, anak pada dasarnya egosentris (berpusat pada diri sendiri) dan dunia mereka adalah rumah keluarga, dan taman kanakkanaknya.

Selama duduk di kelas kecil SD, anak mulai percaya diri tetapi juga sering rendah diri. Pada tahap ini mereka mulai mencoba membuktikan bahwa mereka "dewasa". Mereka merasa "saya dapat mengerjakan sendiri tugas itu, karenanya tahap ini disebut tahap "I can do it my self". Mereka sudah mampu untuk diberikan suatu tugas.

Daya konsentrasi anak tumbuh pada kelas besar SD. Mereka dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk tugas tugas pilihan mereka, dan seringkali mereka dengan senang hati menyelesaikannya. Tahap ini juga termasuk tumbuhnya tindakan mandiri, kerjasama dengan kelompok dan bertindak menurut cara cara yang dapat diterima lingkungan mereka. 

Mereka juga mulai peduli pada permainan yang jujur. Selama masa ini mereka juga mulai menilai diri mereka sendiri dengan membandingkannya dengan orang lain. Anak anak yang lebih mudah menggunakan perbandingan sosial (social comparison) terutama untuk normanorma sosial dan kesesuaian jenisjenis tingkah laku tertentu. Pada saat anakanak tumbuh semakin lanjut, mereka cenderung menggunakan perbandingan sosial untuk mengevaluasi dan menilai kemampuan kemampuan mereka sendiri.

Sebagai akibat dari perubahan struktur fisik dan kognitif mereka, anak pada kelas besar di SD berupaya untuk tampak lebih dewasa. Mereka ingin diperlakukan sebagai orang dewasa.Terjadi perubahan perubahan yang berarti dalam kehidupan sosial dan emosional mereka. Di kelas besar SD anak lakilaki dan perempuan menganggap keikutsertaan dalam kelompok menumbuhkan perasaan bahwa dirinya berharga. Tidak diterima dalam kelompok dapat membawa pada masalah emosional yang serius Temanteman mereka menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Kebutuhan untuk diterima oleh teman sebaya sangat tinggi. Remaja sering berpakaian serupa. Mereka menyatakan kesetiakawanan mereka dengan anggota kelompok teman sebaya melalui pakaian atau perilaku.

Hubungan antara anak dan guru juga seringkali berubah. Pada saat di SD kelas rendah, anak dengan mudah menerima dan bergantung kepada guru. Di awal awal tahun kelas besar SD hubungan ini menjadi lebih kompleks. Ada siswa yang menceritakan informasi pribadi kepada guru, tetapi tidak mereka ceritakan kepada orang tua mereka. Beberapa anak pra remaja memilih guru mereka sebagai model.

Sementara itu, ada beberapa anak membantah guru dengan cara cara yang tidak mereka bayangkan beberapa tahun sebelumnya. Malahan, beberapa anak mungkin secara terbukamenentang gurunya. Salah satu tanda mulai munculnya perkembangan identitas remaja adalah reflektivitas yaitu kecenderungan untuk berpikir tentang apa yang sedang berkecamuk dalam benak mereka sendiri dan mengkaji diri sendiri. Mereka juga mulai menyadari bahwa ada perbedaan antara apa yang mereka pikirkan dan mereka rasakan serta bagaimanamereka berperilaku.

Mereka mulai mempertimbangkan kemungkinankemungkinan. Remaja mudah dibuat tidak puas oleh diri mereka sendiri. Mereka mengkritik sifat pribadi mereka, membandingkan diri mereka dengan orang lain, dan mencoba untuk mengubah perilaku mereka. Pada remaja usia 18 tahun sampai 22 tahun, umumnya telah mengembangkan suatu status pencapaian identitas.

B.     Teori Perkembangan
1.      Teori perkembangan kongnitif menurut Piaget
Kemampuan kongnitif sejalan dengan kemampuan sel-sel saraf otak. Teori ini dibangun berdasarkan kombinasi sudut pandang psikologi yaitu aliran struktural dan aliran konstruktif. Psikologi struktural yang mewarnai teori kongnitif piaget dapat dikaji dari pandangannya tentang inteligensi yang berkembang melalui perkembangan kualitas struktur kongnitif. Aliran konstruktif terlihat dari pandangan piaget ( 1974) yang menyatakan bahwa anak membangun kemampuan kongnitifnya melalui interaksi dengan dunia sekitarnya.
Berikut  empat stadium menurut Piaget:
·         Sensorimotorik (0 2 tahun), bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan medorong mengeksplorasi dunianya.
·         Praoperasional(27tahun),anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan katakata. Tahap pemikirannya yang lebih simbolis  tetapi tidak melibatkan pemikiran operasiaonal dan lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis
·         Operasional Kongkrit (711tahun), penggunaan logika yang memadai. Tahap ini telah memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit.
·         Operasional Formal (11tahun keatas). kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia
2.      Teori Perkembangan menurut Vygotsky
Kognitif berkembang secara alamiah. Penelitian yang dilakukan vygotsky tentang perkembangan kongnitif manusia dilakukannya dalam suasana yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada subjek penelitinya untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat diobservasi.
Dalam melaksanakan penelitiannya ia menerapkan tiga teknik yaitu Teknik pertama yaitu memberi berbagai kendala pada subjek penelitinya yang dapat dipecahkan dengan pemecahan masalah biasa. Misalnya meminta anak yang menguasai bahasa asing untuk menyelasaikan tugas kelompok dengan anak yang tidak menguasai bahasa asing. Teknik kedua dilakukan dengan memberikan alat yang dapat digunakan oleh anak untuk memecahkan masalahnya. Dalam kondisi yang bervariasi anak-anak yang berbeda usianya diharapkan dapat menggunakan alat tersebut dengan berbagai cara yang berbeda. Teknik ketiga dilakukan dengan jalan meminta anak untuk memecahkan masalah yang berbeda di luar kemampuannya (  pengetahuan dan keterampilan) dalam fase ini vigotsky menemukan bahwa pada fase ini anak mulai mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang baru dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, vygotsky menyimpulkan bahwa  dalam memodifikasi stimulus atau memodifikasi situasi yang berkaitan dengan masalah yang dihadapinya dan hal ini, merupakan bagian dari proses merespon masalah yang dihadapinya dalam rangka pemecahan masalah.

C.    Hakekat Pembelajaran IPS
Pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik, baik antara guru dengan siswa, maupun antara siswa dengan siswa untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Komunikasi transaksional adalah bentuk komunikasi yang dapat diterima, dipahami, dan disepakati oleh pihak-pihak yang terkait dalam proses pembelajaran.
Guru menempati posisi kunci dan strategis dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan untuk mengarahkan siswa agar dapat mencapai tujuan secara optimal. Untuk itu guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai diseminator, informator, transmitter, transformator, organizer, fasilitator, motivator dan evaluator bagi terciptanya proses pembelajaran siswa yang dinamis dan inovatif.
Pembelajaran pada hakikatnya adalah proses sebab akibat. Guru sebagai pengajar merupakan penyebab utama terjadinya proses pembelajaran siswa, meskipun tidak semua perbuatan belajar siswa merupakan akibat guru yang mengajar. Oleh sebab itu guru sebagai figur sentral, harus mampu menetapkan strategi pembelajaran yang tepat sehingga dapat mendorong terjadinya perbuatan belajar siswa yang aktif, produktif, dan efisien.
Siswa sebagai peserta didik merupakan subjek utama dalam proses pembelajaran. Keberhasilan pencapaian tujuan banyak tergantung kepada kesiapan dan cara belajar yang dilakukan siswa. Cara belajar ini dapat dilakukan dalam bentuk kelompok (klasikal) ataupun perorangan (individual). Oleh karena itu, guru dalam mengajar harus memperhatikan kesiapan, tingkat kematangan, dan cara belajar siswa. Sehingga dalam hakekat pembelajaran IPS sendiri sangatlah sederhana yaitu sebagai kajian tentang masyarakat. Dan pembelajaran IPS itu merujuk pada kajian yang memusatkan perhatiannya pada aktifitas kehidupan manusia.

D.    Pembelajaran IPS berbasis PAKEM
Dalam paradigma baru pendidikan, tujuan pembelajaran bukan hanya untuk merubah perilaku siswa, tetapi membentuk karakter dan sikap mental profesional yang berorientasi pada global mindset. Fokus pembelajarannya adalah pada mempelajari cara belajar (learning how to learn) dan bukan hanya semata pada mempelajari substansi mata pelajaran. Sedangkan pendekatan, strategi dan metode pembelajarannya adalah mengacu pada konsep konstruktivisme yang mendorong dan menghargai usaha belajar siswa dengan proses enquiry & discovery learning. Dengan pembelajaran konstruktivisme memungkinkan terjadinya pembelajaran berbasis masalah. Siswa sebagai stakeholder terlibat langsung dengan masalah, dan tertantang untuk belajar menyelesaikan berbagai masalah yang relevan dengan kehidupan mereka. Dengan skenario pembelajaran berbasis masalah ini siswa akan berusaha memberdayakan seluruh potensi akademik dan strategi yang mereka miliki untuk menyelesaikan masalah secara individu/kelompok. Prinsip pembelajaran konstruktivisme yang berorientasi pada masalah pembelajaran IPS  akan menghasilkan sikap mental profesional, yang disebut researchmindedness dalam pola pikir siswa, sehingga kegiatan pembelajaran selalu menantang dan menyenangkan.
Pakem yang merupakan singkatan dari pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, merupakan sebuah model pembelajaran kontekstual yang melibatkan paling sedikit empat prinsip utama dalam proses pembelajarannya. Pertama, proses Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multi-media, referensi, lingkungan dsb). Kedua, proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play). Ketiga, proses Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan). Keempat, proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan dan/atau wawancara).
Pelaksanaan Pakem harus memperhatikan bakat, minat dan modalitas belajar siswa, dan bukan semata potensi akademiknya. Dalam pendekatan pembelajaran Quantum (Quantum Learning) ada tiga macam modalitas siswa, yaitu modalitas visual, auditorial dan kinestetik. Dengan modalitas visual dimaksudkan bahwa kekuatan belajar siswa terletak pada indera ‘mata’ (membaca teks, grafik atau dengan melihat suatu peristiwa), kekuatan auditorial terletak pada indera ‘pendengaran’ (mendengar dan menyimak penjelasan atau cerita), dan kekuatan kinestetik terletak pada ‘perabaan’ (seperti menunjuk, menyentuh atau melakukan). Jadi, dengan memahami kecenderungan potensi modalitas siswa tersebut, maka seorang guru harus mampu merancang media, metoda/atau materi pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kecenderungan potensi atau modalitas belajar siswa. Oleh karena itu, supaya pembelajaran IPS dapat berbasis PAKEM maka, peranan seorang guru sangat diperlukan agar pelaksanaan PAKEM berjalan sebagaimana diharapkan.
Peranan Seorang Guru.
1. Memahami potensi siswa yang tersembunyi dan mendorongnya untuk berkembang sesuaidengan kecenderungan bakat dan minat mereka,
2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar meningkatkan rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan bantuan jika mereka membutuhkan,
3. Menghargai potensi siswa yang lemah/lamban dan memperlihatkan entuisme terhadap ide serta gagasan mereka,
4. Mendorong siswa untuk terus maju mencapai sukses dalam bidang yang diminati dan penghargaan atas prestasi mereka,
5. Mengakui pekerjaan siswa dalam satu bidang untuk memberikan semangat pada pekerjaan lain berikutnya.
6. Menggunakan kemampuan fantasi dalam proses pembelajaran untuk membangun hubungan dengan realitas dan kehidupan nyata.
7. Memuji keindahan perbedaan potensi, karakter, bakat dan minat serta modalitas gaya belajar individu siswa,
8. Mendorong dan menghargai keterlibatan individu siswa secara penuh dalam proyek-proyek pembelajaran mandiri,
9. Menyatakan kapada para siswa bahwa guru-guru merupakan mitra mereka dan perannya sebagai motivator dan fasilitator bagi siswa.
10. Menciptakan suasana belajar yang kondusif dan bebas dari tekanan dan intimidasi dalam usaha meyakinkan minat belajar siswa.
11. Mendorong terjadinya proses pembelajaran interaktif, kolaboratif, inkuiri dan diskaveri agar terbentuk budaya belajar yang bermakna (meaningful learning) pada siswa.
12. Memberikan tes/ujian yang bisa mendorong terjadinya umpan balik dan semangat/gairah pada siswa untuk ingin mempelajari materi lebih dalam.

Daftar bacaan :
Chandra, Agus. Rasional Pembelajaran IPS, (Online),http://aguschandra.com/page/2/?s=rasional+pembelajaran+ips&cat=plus-5-result
Sumaatmadja, Nursid dkk. 2003.   Konsep Dasar IPS. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional.
Massofa.Pengertian ruang lingkup dan tujuan IPS, (Online), http://massofa.wordpress.com/2010/12/09/pengertian-ruang-lingkup-dan-tujuan-ips/
Oktaseji. Konsep Dasar IPS dan Ilmu-Ilmu Sosial dalam Pembelajaran, (Online), http://oktaseiji.wordpress.com/2011/04/24/konsep-dasar-ips-dan-ilmu-ilmu-sosial-dalam-pembelajaran/


Pendidikan IPS dan tujuan IPS

A.      Pengertian IPS sebagai Ilmu Sosial (Social Sciences)
Terdapat banyak pengertian IPS yang diberikan oleh para ahli. Diantara pendapat tersebut diuraikan berikut.
1.      Menurut Nasution (1975), IPS adalah bidang studi yang merupakan fusi atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dapat juga dikatakan bahwa IPS merupakan mata pelajaran yang menggunakan bagian-bagian tertentu dari ilmu sosial.
2.      Kurikulum 1975 mendefinisikan IPS sebagai bidang studi merupakan panduan atau fusi dari sejumlah mata pelajaran sosial. • IPS adalah bidang studi yang menghormati, mempelajari, mengolah dan membahas hal-hal yang berhubungan dengan masalah-masalah human relationship hingga benar-benar dapat dipahami dan diperoleh pemecahannya. Penyajiannya harus merupakan bentuk terpadu dari berbagai ilmu sosial yang telah terpilih, dan disederhanakan sesuai dengan kepentingan sekolah-sekolah. (Pedoman IPS-IKIP Surabaya)
3.      Tjokrodikarjo (1982) mendefinisikan IPS sebagai perwujudan dari suatu pendekatan interdisiplin dari ilmu-ilmu sosial. Ia merupakan integrasi berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi budaya, psikologi, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi manusia. IPS dipolakan untuk tujuan-tujuan instruksional dengan materi sederhana, menarik, mudah dimengerti dan dipelajari.
Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan, bahwa IPS adalah pelajaran atau bidang studi yang merupakan fusi (paduan) dan integrasi ilmu. Ilmu sosial yang dikemas dengan materi yang sederhana, menarik, mudah dimengerti dan dipelajari untuk tujuan instruksional di sekolah.
Latar belakang dimasukkannya IPS pada kurikulum sekolah di Indonesia (SD/ MI, SMP, dan SMU) berbeda dari hal serupa di Inggris dan Amerika. Perkembangan sekolah di Indonesia terjadi akibat penyelenggaraan sekolah formal selama masa penjajahan. Oleh karenanya, materi pelajaran di sekolah kebanyakan merupakan kelanjutan dari kurikulum pendidikan warisan Belanda dan Jepang.
Preston memberikan sejumlah alasan mengapa IPS perlu diberikan sejak tingkat pendidikan dasar. Dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyak masalah sosial yang luas, kompleks dan sulit yang memerlukan pemecahan. Anak-anak perlu menyadari bahwa mereka hidup dalam keadaan sulit yang tidak mungkin dapat segera diatasi. Untuk itu, cara-cara yang rasional diperlukan sebagai wahana pemecahannya. IPS memberikan berbagai informasi, ide-ide dan metode untuk menyelidikinya, yang dapat memberikan kepuasan, kehidupan intelektual dan meletakkan dasar toleransi bagi kehidupan antar-kelompok.

B.       Perspektif dan Tujuan Pendidikan IPS
Secara umum IPS adalah suatu mata pelajaran yang mengkaji kehidupan sosial yang bahasannya didasarkan pada bahan kajian sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi dan tata negara. Jadi definisi tersebut menekankan pada integrasi program dan disiplin ilmu – ilmu sosial dan humaniora. Pengajaran pengetahuan Sosial di SD berfungsi mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dasar. Untuk memahami kenyataan sosial yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari – hari.
Rasional mempelajari IPS adalah :
1.      Supaya peserta didik dapat mensitematisasikan bahan, informasi dan atau kemampuan yang telah dimiliki tentang manusia dan lingkungannya menjadi lebih bermakna.
2.      Supaya peserta didik dapat lebih peka dan tanggap terhadap berbagai masalah sosial secara rasional dan bertanggung jawab.
3.      Supaya peserta didik dapat mempertinggi rasa toleransi dan persaudaraan di lingkungan sendiri dan antar manusia.
Kedudukan pengajaran IPS begitu unik karena harus mempersiapkan dan mendidik anak didik untuk hidup dan memahami dunianya, dimana kualitas personal dan kualitas sosial seseorang akan menjadi hal yang sangat vital.
Menurut A.K. Ellis (1991), bahwa alasan dibalik diajarkannyaIPS sebagai mata pelajaran di sekolah karena hal – hal sebagai berikut :
1.      IPS memberikan tempat bagi siswa untuk belajar dan mempraktekkan demokrasi.
2.      IPS dirancang untuk membantu siswa menjelaskan “dunianya”
3.      IPS adalah sarana untuk pengembangan diri siswa secara positif.
4.      IPS membantu siswa memperoleh pemahaman mendasar (fundamental understanding) tentang sejarah, geografi dan ilmu – ilmu sosial lainnya.
5.      IPS meningkatkan kepekaan siswa terhadap masalah – masalah sosial.
Menurut Barr, dkk (1978) IPS dikemukakan sebagai suatu sarana untuk memadukan bahan dari ilmu – ilmu sosial dan humaniora untuk tujuan pendidikan warga negara yang baik. Menurut Barr, dkk (Nelson, 1987;Chapin dan Messick, 1996) merumuskan tiga perspektif tradisi utama dalam IPS, yaitu :
1.      IPS diajarkan sebagai pewarisan nilai kewarganegaraan (citizenship transmission)
2.      IPS diajarkan sebagi ilmu – ilmu sosial.
3.      IPS diajarkan sebagai reflektif inquiry (reflective inquiry)
Menurut Roberta Woolover dan Kathryn P. Scoot (1987), merumuskan lima perspektif dalam mengajarkan IPS, yaitu :
1.      IPS diajarkan sebagai pewarisan nilai kewarganegaraan (citizenship transmission)
2.      IPS diajarkan sebagai Pendidikan ilmu – ilmu sosial
3.      IPS diajarkan sebagai cara berpikir reflektif (reflective inquiry)
4.      IPS diajarkan sebagai pengembangan pribadi siswa.
5.      IPS diajarkan sebagai proses pengambilan keputusan dan tindakan yang rasional.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan keidupan bangsa , bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pendidikan IPS di tingkat Sekolah Dasar (SD) ditujukan untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan dasar siswa yang berguna untuk kehidupan sehari harinya. IPS sangat erat kaitannya dengan persiapan anak didik untuk berperan aktif atau berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia dan terlibat dalam pergaulan masyarakat dunia (global society). IPS harus dilihat sebagai suatu komponen penting dari keseluruhan pendidikan kepada anak. IPS memerankan peranan yang signifikan dalam mengarahkan dan membimbing anak didik pada nilai-nilai dan perilaku yang demokratis, memahami dirinya dalam konteks kehidupan masa kini, memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat global yang interdependen.
Siswa membutuhkan pengetahuan tentang hal-hal dunia luar yang luas dan juga tentang dunia lingkungannya yang sempit. Siswa perlu memahami hal-hal berkaitan dengan individunya, lingkungannya, masa lalu, masa kini, dan masa datang. Kesadaran akan pentingnya hubungan antara bahan IPS (social studies content), ketrampilan, dan konteks pembelajaran (learning contexs) dapat membatu kita untuk mengembangkan suatu IPS yang kuat kadar inquiri sosialnya.
Ketrampilan yang perlu dikembangkan dalam pendidikan IPS mencakup hal-hal sebagai berikut:
1.      Ketrampilan mendapatkan dan mengolah data
2.      Ketrampilan menyampaikan gagasan, argumen, dan cerita
3.      Ketrampilan menyusun pengetahuan baru
4.      Ketrampilan berpartisipasi di dalam kelompok.
Dalam hubungannya dengan nilai dalam pendidikan IPS, seorang guru harus mendorong anak untuk aktif bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku. Guru perlu memotivasi anak untuk memiliki sikap yang baik. Sangatah penting bagi seorang guru mendorong anak untuk memiliki sikap yang baik, karena dengan menciptakan pengalamanpengalaman di dalam kelas siswa diharapkan akan melakukan perbuatan yang baik dalam kegidupan sehari-harinya.

C.      IPS sebagai Tujuan dalam bidang kognitif, afektif, dan psikomotor
tujuan pengajaran pendidikan IPS mencakup tiga kemampuan dasar, yakni bidang kognitif, afektif, dan psikomotor. Pencapaian tujuan pengajaran bidang kognitif didasarkan pada taksonomi bloom. Tujuan kognitif adalah, tujuan yang berkenaan dengan ingatan dan pengenalan kembali pengetahuan, perkembangan kemampuan intelektual dan keterampilan intelektual (Bloom,19:7). Dengan demikian tujuan kognitif pembelajaran IPS lebih mengarah kepada tujuan memperoleh pengetahuan, pengertian, intelegensi, dan keterampilan berpikir siswa. Tujuan kognitif ini terbagi kedalam 6 kelompok besar, yakni:
1.    Pengetahuan
2.    Pemahaman
3.    Aplikasi
4.    Analisa
5.    Sintesis
6.    Evaluasi
Sedangakan tujuan afektif pembelajaran PIPS adalah menekankan pada perasaan emosi, dan derajat penerimaan atau penolakan siswa terhadap materi pembelajaran PIPS yang diberikan. Secara garis besar tujuan afektif dikelompokan kedalam lima kelompok besar, yaitu:
1.    Penerimaan
2.    Jawaban atau sambutan
3.    Penghargaan
4.    Pengorganisasian
5.    Karakteristik nilai

Tujuan psikomotorik dapat dikelompokan pada tujuh kelompok besar, yakni:
1.    Penginderaan
2.    Kesiapan bertindak
3.    Respon atau sambutan terbimbing
4.    Mekanisme atau tindakan yang otomatis
5.    Keterampilan yang dilakukan secara hati-hati
6.    Adaptasi
7.    Keaslian
Jadi kesimpulannya adalah dengan pengajaran ilmu pengetahuan sosial, kita membentuk siswa dalam hal sikap sosialnya.