A.
Karakteristik
Anak Usia SD
Karakteristik Anak Usia SD. Ada beberapa karakteristik anak di usia
Sekolah Dasar yang perlu diketahui para guru, agar lebih mengetahui
keadaan peserta didik khususnya ditingkat Sekolah Dasar. Sebagai guru
harus dapat menerapkan metode pengajaran yang sesuai dengan keadaan
siswanya maka sangatlah penting bagi seorang pendidik mengetahui karakteristik
siswanya. Selain karakteristik yang perlu diperhatikan kebutuhan
peserta didik juga harus diperhatikan juga.
Perkembangan anak usia SD banyak sekali mengalami perubahan yang sangat
drastis baik mental maupun fisik. Usia anak SD yang berkisar antara 6-12 tahun
menurut Seifert dan Haffung memiliki tiga jenis perkembangan :
1. Perkembangan Fisik Siswa SD
Mencakup pertumbuhan biologis misalnya pertumbuhan otak, otot
dan tulang. Pada usia 10 tahun baik laki‐laki maupun
perempuan tinggi dan berat badannya bertambah kurang lebih 3,5 kg. Namun
setelah usia remaja yaitu 12 ‐13 tahun
anak perempuan berkembang lebih cepat dari pada laki‐laki. Berikut
usia anak SD mulai masuk sekolah sampai masa pubertas:
1.
Usia masuk kelas satu SD atau MI berada dalam periode
peralihan dari pertumbuhan cepat masa anak anak awal ke suatu fase
perkembangan yang lebih lambat. Ukuran tubuh anak relatif kecil
perubahannya selama tahun tahun di SD.
2.
Usia 9 tahun tinggi dan berat badan anak laki‐laki dan perempuan kurang lebih sama. Sebelum
usia 9 tahun anak perempuan relatif sedikit lebih pendek dan lebih
langsing dari anak laki‐laki.
3.
Akhir kelas empat, pada umumnya anak perempuan mulai
mengalami masa lonjakan pertumbuhan. Lengan dan kakimulai tumbuh cepat.
4.
Pada akhir kelas lima, umumnya anak perempuan lebih
tinggi, lebih berat dan lebih kuat daripada anak laki‐laki. Anak laki‐laki memulai
lonjakan pertumbuhan pada usia sekitar 11 tahun.
5.
Menjelang awal kelas enam, kebanyakan anak perempuan
mendekati puncak tertinggi pertumbuhan mereka. Periode pubertas yang
ditandai dengan menstruasi umumnya dimulai pada usia 12‐13 tahun. Anak laki‐laki
memasuki masa pubertas dengan ejakulasi yang terjadi antara usia 13‐16 tahun.
6.
Perkembangan fisik selama remaja dimulai dari masa
pubertas. Pada masa ini terjadi perubahan fisiologis yang mengubah manusia
yang belum mampu bereproduksi menjadi mampu bereproduksi.
2. Perkembangan Kognitif Siswa SD
Perkembangan kognitif mencakup perubahan – perubahan dalam perkembangan
pola pikir. Tahap perkembangan kognitif individu menurut Piaget melalui
empat stadium:
·
Sensorimotorik (0‐2 tahun),
bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan medorong mengeksplorasi
dunianya.
·
Praoperasional(2‐7tahun),anak
belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata‐kata. Tahap pemikirannya yang lebih simbolis
tetapi tidak melibatkan pemikiran operasiaonal dan lebih bersifat
egosentris dan intuitif ketimbang logis
·
Operasional Kongkrit (7‐11tahun),
penggunaan logika yang memadai. Tahap ini telah memahami operasi logis
dengan bantuan benda konkrit.
·
Operasional Formal (12‐15 tahun).
kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik
kesimpulan dari informasi yang tersedia
3. Perkembangan Psikososial
Hal tersebut berkaitan dengan perkembangan dan perubahan
emosi individu. J. Havighurst mengemukakan bahwa setiap perkembangan
individu harus sejalan dengan perkembangan aspek lain seperti di antaranya
adalah aspek psikis, moral dan sosial. Menjelang masuk SD, anak telah
Mengembangkan keterampilan berpikir bertindak dan pengaruh sosial yang
lebih kompleks. Sampai dengan masa ini, anak pada dasarnya egosentris
(berpusat pada diri sendiri) dan dunia mereka adalah rumah keluarga, dan
taman kanak‐kanaknya.
Selama duduk di kelas kecil SD, anak mulai percaya diri tetapi juga
sering rendah diri. Pada tahap ini mereka mulai mencoba membuktikan bahwa
mereka "dewasa". Mereka merasa "saya dapat mengerjakan
sendiri tugas itu, karenanya tahap ini disebut tahap "I can do it my
self". Mereka sudah mampu untuk diberikan suatu tugas.
Daya konsentrasi anak tumbuh pada kelas besar SD. Mereka
dapat meluangkan lebih banyak waktu untuk tugas tugas pilihan mereka, dan
seringkali mereka dengan senang hati menyelesaikannya. Tahap ini juga
termasuk tumbuhnya tindakan mandiri, kerjasama dengan kelompok dan
bertindak menurut cara cara yang dapat diterima lingkungan mereka.
Mereka juga mulai peduli pada permainan yang jujur. Selama masa
ini mereka juga mulai menilai diri mereka sendiri dengan membandingkannya
dengan orang lain. Anak anak yang lebih mudah menggunakan perbandingan
sosial (social comparison) terutama untuk norma‐norma sosial
dan kesesuaian jenis‐jenis
tingkah laku tertentu. Pada saat anak‐anak tumbuh
semakin lanjut, mereka cenderung menggunakan perbandingan sosial untuk
mengevaluasi dan menilai kemampuan kemampuan mereka sendiri.
Sebagai akibat dari perubahan struktur fisik dan kognitif mereka, anak
pada kelas besar di SD berupaya untuk tampak lebih dewasa. Mereka ingin
diperlakukan sebagai orang dewasa.Terjadi perubahan perubahan yang berarti
dalam kehidupan sosial dan emosional mereka. Di kelas besar SD anak laki‐laki dan perempuan menganggap keikutsertaan dalam
kelompok menumbuhkan perasaan bahwa dirinya berharga. Tidak diterima dalam
kelompok dapat membawa pada masalah emosional yang serius Teman‐teman mereka menjadi lebih penting
daripada sebelumnya. Kebutuhan untuk diterima oleh teman sebaya sangat
tinggi. Remaja sering berpakaian serupa. Mereka menyatakan kesetiakawanan
mereka dengan anggota kelompok teman sebaya melalui pakaian atau perilaku.
Hubungan antara anak dan guru juga seringkali berubah. Pada saat di SD
kelas rendah, anak dengan mudah menerima dan bergantung kepada guru. Di
awal awal tahun kelas besar SD hubungan ini menjadi lebih kompleks. Ada siswa
yang menceritakan informasi pribadi kepada guru, tetapi tidak mereka
ceritakan kepada orang tua mereka. Beberapa anak pra remaja memilih guru
mereka sebagai model.
Sementara itu, ada beberapa anak membantah guru dengan cara cara yang
tidak mereka bayangkan beberapa tahun sebelumnya. Malahan, beberapa anak
mungkin secara terbukamenentang gurunya. Salah satu tanda mulai
munculnya perkembangan identitas remaja adalah reflektivitas yaitu
kecenderungan untuk berpikir tentang apa yang sedang berkecamuk dalam
benak mereka sendiri dan mengkaji diri sendiri. Mereka juga mulai
menyadari bahwa ada perbedaan antara apa yang mereka pikirkan dan mereka
rasakan serta bagaimanamereka berperilaku.
Mereka mulai mempertimbangkan kemungkinan‐kemungkinan.
Remaja mudah dibuat tidak puas oleh diri mereka sendiri. Mereka mengkritik
sifat pribadi mereka, membandingkan diri mereka dengan orang lain, dan
mencoba untuk mengubah perilaku mereka. Pada remaja usia 18 tahun sampai
22 tahun, umumnya telah mengembangkan suatu status pencapaian identitas.
B.
Teori
Perkembangan
Kemampuan
kongnitif sejalan dengan kemampuan sel-sel saraf otak. Teori ini dibangun
berdasarkan kombinasi sudut pandang psikologi yaitu aliran struktural dan
aliran konstruktif. Psikologi struktural yang mewarnai teori kongnitif piaget
dapat dikaji dari pandangannya tentang inteligensi yang berkembang melalui
perkembangan kualitas struktur kongnitif. Aliran konstruktif terlihat dari
pandangan piaget ( 1974) yang menyatakan bahwa anak membangun kemampuan
kongnitifnya melalui interaksi dengan dunia sekitarnya.
Berikut empat stadium menurut
Piaget:
·
Sensorimotorik (0‐ 2 tahun),
bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan medorong mengeksplorasi
dunianya.
·
Praoperasional(2‐7tahun),anak
belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata‐kata. Tahap pemikirannya yang lebih simbolis
tetapi tidak melibatkan pemikiran operasiaonal dan lebih bersifat
egosentris dan intuitif ketimbang logis
·
Operasional Kongkrit (7‐11tahun),
penggunaan logika yang memadai. Tahap ini telah memahami operasi logis
dengan bantuan benda konkrit.
·
Operasional Formal (11tahun keatas). kemampuan untuk
berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari
informasi yang tersedia
2.
Teori Perkembangan menurut Vygotsky
Kognitif
berkembang secara alamiah. Penelitian yang dilakukan vygotsky tentang
perkembangan kongnitif manusia dilakukannya dalam suasana yang memberi
kesempatan seluas-luasnya kepada subjek penelitinya untuk melakukan berbagai
kegiatan yang dapat diobservasi.
Dalam
melaksanakan penelitiannya ia menerapkan tiga teknik yaitu Teknik pertama yaitu
memberi berbagai kendala pada subjek penelitinya yang dapat dipecahkan dengan
pemecahan masalah biasa. Misalnya meminta anak yang menguasai bahasa asing
untuk menyelasaikan tugas kelompok dengan anak yang tidak menguasai bahasa
asing. Teknik kedua dilakukan dengan memberikan alat yang dapat digunakan oleh
anak untuk memecahkan masalahnya. Dalam kondisi yang bervariasi anak-anak yang
berbeda usianya diharapkan dapat menggunakan alat tersebut dengan berbagai cara
yang berbeda. Teknik ketiga dilakukan dengan jalan meminta anak untuk
memecahkan masalah yang berbeda di luar kemampuannya ( pengetahuan dan keterampilan) dalam fase ini
vigotsky menemukan bahwa pada fase ini anak mulai mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan yang baru dalam memecahkan masalah yang dihadapinya.
Berdasarkan
penelitian yang dilakukannya, vygotsky menyimpulkan bahwa dalam memodifikasi stimulus atau memodifikasi
situasi yang berkaitan dengan masalah yang dihadapinya dan hal ini, merupakan
bagian dari proses merespon masalah yang dihadapinya dalam rangka pemecahan
masalah.
C. Hakekat Pembelajaran IPS
Pembelajaran
pada hakikatnya merupakan suatu proses komunikasi transaksional yang bersifat
timbal balik, baik antara guru dengan siswa, maupun antara siswa dengan siswa
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Komunikasi transaksional adalah
bentuk komunikasi yang dapat diterima, dipahami, dan disepakati oleh
pihak-pihak yang terkait dalam proses pembelajaran.
Guru
menempati posisi kunci dan strategis dalam menciptakan suasana belajar yang
kondusif dan menyenangkan untuk mengarahkan siswa agar dapat mencapai tujuan
secara optimal. Untuk itu guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai
diseminator, informator, transmitter, transformator, organizer, fasilitator,
motivator dan evaluator bagi terciptanya proses pembelajaran siswa yang dinamis
dan inovatif.
Pembelajaran
pada hakikatnya adalah proses sebab akibat. Guru sebagai pengajar merupakan
penyebab utama terjadinya proses pembelajaran siswa, meskipun tidak semua
perbuatan belajar siswa merupakan akibat guru yang mengajar. Oleh sebab itu
guru sebagai figur sentral, harus mampu menetapkan strategi pembelajaran yang
tepat sehingga dapat mendorong terjadinya perbuatan belajar siswa yang aktif,
produktif, dan efisien.
Siswa
sebagai peserta didik merupakan subjek utama dalam proses pembelajaran.
Keberhasilan pencapaian tujuan banyak tergantung kepada kesiapan dan cara
belajar yang dilakukan siswa. Cara belajar ini dapat dilakukan dalam bentuk
kelompok (klasikal) ataupun perorangan (individual). Oleh karena itu, guru
dalam mengajar harus memperhatikan kesiapan, tingkat kematangan, dan cara
belajar siswa. Sehingga dalam hakekat pembelajaran IPS sendiri sangatlah
sederhana yaitu sebagai kajian tentang masyarakat. Dan pembelajaran IPS itu
merujuk pada kajian yang memusatkan perhatiannya pada aktifitas kehidupan
manusia.
D. Pembelajaran IPS berbasis PAKEM
Dalam paradigma baru pendidikan,
tujuan pembelajaran bukan hanya untuk merubah perilaku siswa, tetapi membentuk
karakter dan sikap mental profesional yang berorientasi pada global mindset.
Fokus pembelajarannya adalah pada mempelajari cara belajar (learning how to learn)
dan bukan hanya semata pada mempelajari substansi mata pelajaran. Sedangkan
pendekatan, strategi dan metode pembelajarannya adalah mengacu pada konsep
konstruktivisme yang mendorong dan menghargai usaha belajar siswa dengan proses
enquiry & discovery learning. Dengan pembelajaran konstruktivisme
memungkinkan terjadinya pembelajaran berbasis masalah. Siswa sebagai
stakeholder terlibat langsung dengan masalah, dan tertantang untuk belajar
menyelesaikan berbagai masalah yang relevan dengan kehidupan mereka. Dengan
skenario pembelajaran berbasis masalah ini siswa akan berusaha memberdayakan
seluruh potensi akademik dan strategi yang mereka miliki untuk menyelesaikan
masalah secara individu/kelompok. Prinsip pembelajaran konstruktivisme yang
berorientasi pada masalah pembelajaran IPS
akan menghasilkan sikap mental profesional, yang disebut
researchmindedness dalam pola pikir siswa, sehingga kegiatan pembelajaran
selalu menantang dan menyenangkan.
Pakem yang merupakan singkatan dari
pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, merupakan sebuah model
pembelajaran kontekstual yang melibatkan paling sedikit empat prinsip utama
dalam proses pembelajarannya. Pertama, proses Interaksi (siswa berinteraksi
secara aktif dengan guru, rekan siswa, multi-media, referensi, lingkungan dsb).
Kedua, proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka
dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi
role-play). Ketiga, proses Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan
apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan). Keempat,
proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera
mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan dan/atau wawancara).
Pelaksanaan Pakem harus memperhatikan
bakat, minat dan modalitas belajar siswa, dan bukan semata potensi akademiknya.
Dalam pendekatan pembelajaran Quantum (Quantum Learning) ada tiga macam
modalitas siswa, yaitu modalitas visual, auditorial dan kinestetik. Dengan
modalitas visual dimaksudkan bahwa kekuatan belajar siswa terletak pada indera
‘mata’ (membaca teks, grafik atau dengan melihat suatu peristiwa), kekuatan
auditorial terletak pada indera ‘pendengaran’ (mendengar dan menyimak
penjelasan atau cerita), dan kekuatan kinestetik terletak pada ‘perabaan’
(seperti menunjuk, menyentuh atau melakukan). Jadi, dengan memahami
kecenderungan potensi modalitas siswa tersebut, maka seorang guru harus mampu
merancang media, metoda/atau materi pembelajaran kontekstual yang relevan dengan
kecenderungan potensi atau modalitas belajar siswa. Oleh karena itu, supaya
pembelajaran IPS dapat berbasis PAKEM maka, peranan seorang guru sangat
diperlukan agar pelaksanaan PAKEM berjalan sebagaimana diharapkan.
Peranan Seorang Guru.
1. Memahami potensi siswa yang
tersembunyi dan mendorongnya untuk berkembang sesuaidengan kecenderungan bakat
dan minat mereka,
2. Memberikan kesempatan kepada siswa
untuk belajar meningkatkan rasa tanggung jawab dalam melaksanakan tugas dan
bantuan jika mereka membutuhkan,
3. Menghargai potensi siswa yang
lemah/lamban dan memperlihatkan entuisme terhadap ide serta gagasan mereka,
4. Mendorong siswa untuk terus maju
mencapai sukses dalam bidang yang diminati dan penghargaan atas prestasi
mereka,
5. Mengakui pekerjaan siswa dalam
satu bidang untuk memberikan semangat pada pekerjaan lain berikutnya.
6. Menggunakan kemampuan fantasi
dalam proses pembelajaran untuk membangun hubungan dengan realitas dan
kehidupan nyata.
7. Memuji keindahan perbedaan
potensi, karakter, bakat dan minat serta modalitas gaya belajar individu siswa,
8. Mendorong dan menghargai
keterlibatan individu siswa secara penuh dalam proyek-proyek pembelajaran
mandiri,
9. Menyatakan kapada para siswa bahwa
guru-guru merupakan mitra mereka dan perannya sebagai motivator dan fasilitator
bagi siswa.
10. Menciptakan suasana belajar yang
kondusif dan bebas dari tekanan dan intimidasi dalam usaha meyakinkan minat
belajar siswa.
11. Mendorong terjadinya proses
pembelajaran interaktif, kolaboratif, inkuiri dan diskaveri agar terbentuk
budaya belajar yang bermakna (meaningful learning) pada siswa.
12. Memberikan tes/ujian yang bisa
mendorong terjadinya umpan balik dan semangat/gairah pada siswa untuk ingin
mempelajari materi lebih dalam.
Daftar bacaan :
Chandra,
Agus. Rasional Pembelajaran IPS, (Online),http://aguschandra.com/page/2/?s=rasional+pembelajaran+ips&cat=plus-5-result
Sumaatmadja,
Nursid dkk. 2003. Konsep Dasar IPS. Jakarta: Pusat
Penerbitan Universitas Terbuka Departemen Pendidikan Nasional.
Massofa.Pengertian
ruang lingkup dan tujuan IPS, (Online), http://massofa.wordpress.com/2010/12/09/pengertian-ruang-lingkup-dan-tujuan-ips/
Oktaseji. Konsep
Dasar IPS dan Ilmu-Ilmu Sosial dalam Pembelajaran, (Online), http://oktaseiji.wordpress.com/2011/04/24/konsep-dasar-ips-dan-ilmu-ilmu-sosial-dalam-pembelajaran/